Minggu, 27 Maret 2022

PENDIDIKAN LINGUISTIK


A.    Definisi Linguistik

Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah dilakukan sejak abad ke-5 SM oleh orang-orang Yunani (seperti Cratylus dan Plato), sekarang yang kita kenal dengan “tata bahasa tradisional’ merupakan bidang kajian dalam ‘filsafat’ pada zaman tersebut.  Pandangan terhadap bahasa memunculkan dua kelompok berbeda, kelompok naturalis dan kelompok konvensionalis. Kelompok naturalis didasari oleh sudut pandang filosofi-logis, mengkaitkan bahasa dengan filsafat; gramatika merupakan bagian dari logika. Kelompok kovensionalis  didasari oleh sudut pandang deskriptif-etnografis, mengkaitkan bahasa dengan bidang antropologi; gramatika merupakan bagian dari budaya. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada bentuk oposisi antara bahasa sebagai kaidah dan bahasa sebagai sumber. Namun keduanya memiliki perhatian yang besar pada aspek sistem; pengungkapan sifat mendasar dari bahasa (I Gusti Made Sutjaja, 1999: 59). Perkembangan selanjutya bahasa berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang sekarang kita kenal sebagai linguistik.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya ( Abdul Chaer, 2007: 10). Pernyataan tersebut menekankan bahwa tugas linguistik hanya mempelajari kaidah-kaidah yang seharusnya sesuai dengan tata bahasa. Dalam kurun watu sekitar seperempat abad mengenai kajian linguistik di Indonesia, bahwa minat para linguis Indonesia masih terpusat pada tataran sitaksis dan dengan pedekatan struktural (Wahab, 1999: 11-14). Pengkajian tersebut berkutat hanya dari struktur fisik bahasa dengan data bahasa yang diteliti cenderung itu-itu saja, yaitu bahasa-bahasa di pulau Sumatera dan Jawa dan kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur. Penelitian linguistik hanya befokus pada satu hal yang melupakan unsur lain, pendekatan struktur merupakan pengetahuan dasar dan sebaiknya ditambah dengan berbagai sudut pandang baru dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat kita menginterpretasikan bahasa dengan lebih untuh. Kita seharusnya mempertanyakan mengenai bagaimanakah aspek di luar bahasa seperti segi fungsional bahasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari, dalam wacana, dan lain sebagainya.

Penulusuran yang dilakukan oleh Lauder (1995:10-15) dengan mengikuti pembagian kelompok kegiatan yang dirancang oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Berdasarkan jenis penelitian, gambarannya adalah sebagai berikut: penelitian Struktur Bahasa 67,65%; Sosiolinguistik 3,67%; Dialektologi 9,12%; Sastra 16,46%; dan Pengajaran 3,10%. Data ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian struktur bahasa menempati urutan pertama petama (67,65%). Catatannya ialah bahwa penelitian yang berfokus pada fonetik dan fonemik jumlahnya minim, sedangkan penelitian yang berfokus pada variasi bahasa, yaitu penelitian sosiolinguistik dan dialektologi, ternyata masih kecil jumlahnya (12,79%) jika dibandingkan dengan penelitian struktur bahasa ( Multaia RMT Lauder, 2002: 175). Ketika kita mendalami sesuatu haruslah secara meluas begitupula dalam mendalami ilmu bahasa harus meluas tidak hanya pada bentuk fisiknya saja, kita harus mendalami pengaruh dari dalam dan luar. Jangan menggunakan “kacamata kuda” yang hanya melihat lurus ke depan. Seperti juga dalam pendidikan, bahwa ketika mengajar harus memperhatiakan hal-hal lain bukan hanya fokus pada strategi saja tapi harus pada hal-hal lain untuk mendukung pembelajaran.

B.    Definisi Linguistik Terapan

Linguistik terapan (applied linguistics) adalah satu cabang ilmu linguistik makro yang diterapkan pada disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan linguisitk. Definisi dari Linguistik terapan yang ditawarkan oleh para ahli adalah sebagai berikut.

1)    Richards dan Schmidt (2002: 320) di dalam kamus pengajaran bahasa & Linguistik terapan mendefinisikan linguistik terapan sebagai berikut:

a.     Linguistik terapan adalah studi tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa kedua dan bahasa asing,

b.     Linguistik terapan adalah studi tentang bahasa dan linguistik yang berkaitan dengan masalah-masalah praktis, seperti perkamusan, terjemahan, patologi wicara, dll. Linguistik terapan menggunakan informasi dari Sosiologi, Psikologi, Antropologi, dan teori informasi serta ilmu linguistik untuk mengembangkan model-model teoritis bahasa dan penggunaan bahasa, kemudian menggunakan informasi dan teori ini di bidang praktis seperti desain silabus, terapi bicara, bahasa perencanaan, gaya bahasa, dll.

2)    Monoton Davies (2004: 3) menyatakan bahwa linguistik terapan adalah penyelidikan teoritik dan empirik yang menempatkan bahasa sebagai pokok pembahasan.

3)    Schmit dan Celce-Muria di Davies (2004: 4) mendefinisikan Linguistik terapan sebagai aplikasi atau penggunaan tentang apa yang kita ketahui tentang bahasa, bagaimana ia dipelajari, bagaimana itu digunakan, dalam rangka untuk mencapai beberapa tujuan atau memecahkan beberapa masalah di dunia nyata.

4)    Grabe di Davies (2004: 5) mengatakan bahwa fokus dari Linguistik terapan adalah usaha untuk menyelesaikan masalah berbasis bahasa yang dihadapi di dunia nyata, baik mereka sebagai pelajar, guru, pengawas, akademisi, pengacara, dan penyedia layanan, mereka yang terjun di bidang sosial, pengambil tes, pemegang kebijakan, pembuat kamus, penerjemah, atau berbagai macam klien bisnis. Grabe di Davies (2004: 11) menyimpulkan bahwa definisi Linguistik terapan adalah kegiatan yang koheren secara teoritis serta dibuktikan melalui penyelidikan spekulatif dan empiris terhadap masalah di dunia nyata.

 

C.    Definisi Pendidikan Linguistik

Berikut adalah beberapa definisi linguistik pendidikan yang ditawarkan oleh beberapa ahli. Mereka adalah sebagai berikut:

1)    Hornberger dan Spolsky di Spolsky dan Hult (2008: 2) mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai bidang studi yang mengintegrasikan penelitian dalam bidang linguistik dan disiplin ilmu yang lain terkait ilmu sosial untuk menyelidiki berbagai isu-isu yang berkaitan dengan bahasa dan pendidikan secara holistik.

2)    Richards dan Schmidt (2002: 330) di dalam kamus pengajaran bahasa dan linguistik terapan mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai istilah yang kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada cabang Linguistik terapan yang berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan pendidikan.

3)    Unsworth (2015: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan berkaitan dengan studi bahasa dalam mengajar dan belajar. Dengan demikian, ia memiliki kepentingan di dalam sistem linguistik dan perannya dalam belajar, juga seperti apa jenis pengetahuan tentang bahasa yan harus diajarkan kepada anak-anak.

 

D.    Lingkup Linguistik Pendidikan

Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang ruang lingkup pendidikan linguistik yang diusulkan oleh bysome:

1.     Spolsky (1974: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan adalah disiplin ilmu yang tugas utamanya adalah untuk menawarkan informasi yang relevan untuk merumuskan kebijakan pendidikan bahasa dan pelaksanaannya,

2.     Hornberger di Benson (2005: 8) menyatakan bahwa linguistik pendidikan mengkhususkan dirinya sendiri terhadap isu-isu di keanekaragaman linguistik dan budaya dengan pendekatan untuk belajar dan mengajar yang merangkul kepentingan lokal, nasional dan internasional. Kemudian, ia juga mengatakan bahwa linguistik pendidikan termasuk pemerolehan bahasa kedua, pemilihan bahasa, pemeliharaan dan pergeseran bahasa, bahasa dan etnis, analisis deskriptif, pidato dan wacana, pendidikan, implikasi keanekaragaman linguistik, pendidikan perencanaan bahasa, dwibahasa, interaksi pengucapan dan buta huruf.

PENDIDIKAN KARAKTER


Pendidikan karakter  adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter  sangat  erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan individu secara terus menerus guna meningkatkan diri menuju kehidupan yang lebih baik.

A.    Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

Agar lebih memahami apa arti  pendidikan karakter , maka kita dapat merujuk pada beberapa pendapat ahli berikut ini:

1)    T. Ramli

Menurut T. Ramli, pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang membentuk esensi dan makna terhadap moral dan akhlak sehingga hal tersebut akan mampu menjadi pribadi pribadi peserta didik yang baik.

2)    Thomas Lickona

Menurut Thomas Lickona, pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

3)    John W. Santrock

Menurut John W. Santrock,  pendidikan karakter  adalah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik untuk menanamkan nilai moral dan memberi pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang.

4)    Elkind

Menurut Elkind, pengertian pendidikan karakter adalah suatu metode pendidikan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mempengaruhi karakter murid. Dalam hal ini terlihat bahwa guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mampu menjadi seorang teladan.

 

B.    Fungsi Pendidikan Karakter

Mengacu pada pengertian di atas, pendidikan karakter memiliki fungsi dasar untuk mengembangkan potensi seseorang agar dapat menjalani kehidupannya dengan bersikap baik. Dalam lingkup pendidikan formal, pendidikan karakter di sekolah berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bermoral, tangguh, berperilaku baik, dan toleran.

Tiga fungsi utama pendidikan karakter di sekolah. Serupa.id mengutip Zubaedi dalam buku Desain Pendidikan Karakter (2012) yang menyebutkan tiga fungsi pendidikan karakter di sekolah. Ketika fungsi tersebut adalah:

1.     Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi.

Agar perserta didik mampu mengembangkan potensi dalam dirinya untuk berpikir baik, berhati nurani baik, berperilaku baik, dan berbudi luhur.

2.     Fungsi untuk penguatan dan perbaikan.

Memperbaiki dan menguatkan peran individu, keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan berpartisipasi dalam mengembangkan potensi kelompok, instansi, atau masyarakat secara umum.

3.     Fungsi penyaring .

Pendidikan karakter digunakan agar masyarakat dapat memilih dan memilah budaya bangsa sendiri, dapat menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa sendiri yang berbudi luhur.

 

C.    Nilai Pendidikan Karakter

Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK (Pengembangan Pendidikan Karakter), yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

1.     Nilai Karakter Religious

Nilai karakter religious mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap pelaksanaan ibadah dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, keyakinan pendirian, kepercayaan diri, keyakinan, antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti peru dan kekerasan, persahabatan, tidak menginginkan keinginan, lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

2.     Nilai Karakter Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, perhatian, dan perbuatan yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui apresiasi terhadap budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

3.     Nilai Karakter Integritas

Adapun nilai karakter integritasmerupakan nilai yang didasarkan pada perilaku yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui tindakan dan tindakan berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai individu (terutama orang-orang cacat), serta mampu menunjukkan keteladanan.

4.     Nilai Karakter Mandiri

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak memperhatikan orang lain dan mengatasi segala tenaga, pikiran, waktu untuk mewujudkan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

5.     Nilai Karakter Gotong Royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan masalah bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, Membantu membantu, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

PENDIDIKAN LINGUISTIK

A.     Definisi Linguistik Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah...