Minggu, 27 Maret 2022

PENDIDIKAN LINGUISTIK


A.    Definisi Linguistik

Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah dilakukan sejak abad ke-5 SM oleh orang-orang Yunani (seperti Cratylus dan Plato), sekarang yang kita kenal dengan “tata bahasa tradisional’ merupakan bidang kajian dalam ‘filsafat’ pada zaman tersebut.  Pandangan terhadap bahasa memunculkan dua kelompok berbeda, kelompok naturalis dan kelompok konvensionalis. Kelompok naturalis didasari oleh sudut pandang filosofi-logis, mengkaitkan bahasa dengan filsafat; gramatika merupakan bagian dari logika. Kelompok kovensionalis  didasari oleh sudut pandang deskriptif-etnografis, mengkaitkan bahasa dengan bidang antropologi; gramatika merupakan bagian dari budaya. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada bentuk oposisi antara bahasa sebagai kaidah dan bahasa sebagai sumber. Namun keduanya memiliki perhatian yang besar pada aspek sistem; pengungkapan sifat mendasar dari bahasa (I Gusti Made Sutjaja, 1999: 59). Perkembangan selanjutya bahasa berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang sekarang kita kenal sebagai linguistik.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya ( Abdul Chaer, 2007: 10). Pernyataan tersebut menekankan bahwa tugas linguistik hanya mempelajari kaidah-kaidah yang seharusnya sesuai dengan tata bahasa. Dalam kurun watu sekitar seperempat abad mengenai kajian linguistik di Indonesia, bahwa minat para linguis Indonesia masih terpusat pada tataran sitaksis dan dengan pedekatan struktural (Wahab, 1999: 11-14). Pengkajian tersebut berkutat hanya dari struktur fisik bahasa dengan data bahasa yang diteliti cenderung itu-itu saja, yaitu bahasa-bahasa di pulau Sumatera dan Jawa dan kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur. Penelitian linguistik hanya befokus pada satu hal yang melupakan unsur lain, pendekatan struktur merupakan pengetahuan dasar dan sebaiknya ditambah dengan berbagai sudut pandang baru dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat kita menginterpretasikan bahasa dengan lebih untuh. Kita seharusnya mempertanyakan mengenai bagaimanakah aspek di luar bahasa seperti segi fungsional bahasa dalam pemakaian bahasa sehari-hari, dalam wacana, dan lain sebagainya.

Penulusuran yang dilakukan oleh Lauder (1995:10-15) dengan mengikuti pembagian kelompok kegiatan yang dirancang oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Berdasarkan jenis penelitian, gambarannya adalah sebagai berikut: penelitian Struktur Bahasa 67,65%; Sosiolinguistik 3,67%; Dialektologi 9,12%; Sastra 16,46%; dan Pengajaran 3,10%. Data ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian struktur bahasa menempati urutan pertama petama (67,65%). Catatannya ialah bahwa penelitian yang berfokus pada fonetik dan fonemik jumlahnya minim, sedangkan penelitian yang berfokus pada variasi bahasa, yaitu penelitian sosiolinguistik dan dialektologi, ternyata masih kecil jumlahnya (12,79%) jika dibandingkan dengan penelitian struktur bahasa ( Multaia RMT Lauder, 2002: 175). Ketika kita mendalami sesuatu haruslah secara meluas begitupula dalam mendalami ilmu bahasa harus meluas tidak hanya pada bentuk fisiknya saja, kita harus mendalami pengaruh dari dalam dan luar. Jangan menggunakan “kacamata kuda” yang hanya melihat lurus ke depan. Seperti juga dalam pendidikan, bahwa ketika mengajar harus memperhatiakan hal-hal lain bukan hanya fokus pada strategi saja tapi harus pada hal-hal lain untuk mendukung pembelajaran.

B.    Definisi Linguistik Terapan

Linguistik terapan (applied linguistics) adalah satu cabang ilmu linguistik makro yang diterapkan pada disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan linguisitk. Definisi dari Linguistik terapan yang ditawarkan oleh para ahli adalah sebagai berikut.

1)    Richards dan Schmidt (2002: 320) di dalam kamus pengajaran bahasa & Linguistik terapan mendefinisikan linguistik terapan sebagai berikut:

a.     Linguistik terapan adalah studi tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa kedua dan bahasa asing,

b.     Linguistik terapan adalah studi tentang bahasa dan linguistik yang berkaitan dengan masalah-masalah praktis, seperti perkamusan, terjemahan, patologi wicara, dll. Linguistik terapan menggunakan informasi dari Sosiologi, Psikologi, Antropologi, dan teori informasi serta ilmu linguistik untuk mengembangkan model-model teoritis bahasa dan penggunaan bahasa, kemudian menggunakan informasi dan teori ini di bidang praktis seperti desain silabus, terapi bicara, bahasa perencanaan, gaya bahasa, dll.

2)    Monoton Davies (2004: 3) menyatakan bahwa linguistik terapan adalah penyelidikan teoritik dan empirik yang menempatkan bahasa sebagai pokok pembahasan.

3)    Schmit dan Celce-Muria di Davies (2004: 4) mendefinisikan Linguistik terapan sebagai aplikasi atau penggunaan tentang apa yang kita ketahui tentang bahasa, bagaimana ia dipelajari, bagaimana itu digunakan, dalam rangka untuk mencapai beberapa tujuan atau memecahkan beberapa masalah di dunia nyata.

4)    Grabe di Davies (2004: 5) mengatakan bahwa fokus dari Linguistik terapan adalah usaha untuk menyelesaikan masalah berbasis bahasa yang dihadapi di dunia nyata, baik mereka sebagai pelajar, guru, pengawas, akademisi, pengacara, dan penyedia layanan, mereka yang terjun di bidang sosial, pengambil tes, pemegang kebijakan, pembuat kamus, penerjemah, atau berbagai macam klien bisnis. Grabe di Davies (2004: 11) menyimpulkan bahwa definisi Linguistik terapan adalah kegiatan yang koheren secara teoritis serta dibuktikan melalui penyelidikan spekulatif dan empiris terhadap masalah di dunia nyata.

 

C.    Definisi Pendidikan Linguistik

Berikut adalah beberapa definisi linguistik pendidikan yang ditawarkan oleh beberapa ahli. Mereka adalah sebagai berikut:

1)    Hornberger dan Spolsky di Spolsky dan Hult (2008: 2) mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai bidang studi yang mengintegrasikan penelitian dalam bidang linguistik dan disiplin ilmu yang lain terkait ilmu sosial untuk menyelidiki berbagai isu-isu yang berkaitan dengan bahasa dan pendidikan secara holistik.

2)    Richards dan Schmidt (2002: 330) di dalam kamus pengajaran bahasa dan linguistik terapan mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai istilah yang kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada cabang Linguistik terapan yang berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan pendidikan.

3)    Unsworth (2015: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan berkaitan dengan studi bahasa dalam mengajar dan belajar. Dengan demikian, ia memiliki kepentingan di dalam sistem linguistik dan perannya dalam belajar, juga seperti apa jenis pengetahuan tentang bahasa yan harus diajarkan kepada anak-anak.

 

D.    Lingkup Linguistik Pendidikan

Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang ruang lingkup pendidikan linguistik yang diusulkan oleh bysome:

1.     Spolsky (1974: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan adalah disiplin ilmu yang tugas utamanya adalah untuk menawarkan informasi yang relevan untuk merumuskan kebijakan pendidikan bahasa dan pelaksanaannya,

2.     Hornberger di Benson (2005: 8) menyatakan bahwa linguistik pendidikan mengkhususkan dirinya sendiri terhadap isu-isu di keanekaragaman linguistik dan budaya dengan pendekatan untuk belajar dan mengajar yang merangkul kepentingan lokal, nasional dan internasional. Kemudian, ia juga mengatakan bahwa linguistik pendidikan termasuk pemerolehan bahasa kedua, pemilihan bahasa, pemeliharaan dan pergeseran bahasa, bahasa dan etnis, analisis deskriptif, pidato dan wacana, pendidikan, implikasi keanekaragaman linguistik, pendidikan perencanaan bahasa, dwibahasa, interaksi pengucapan dan buta huruf.

PENDIDIKAN KARAKTER


Pendidikan karakter  adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter  sangat  erat hubungannya dengan pendidikan moral dimana tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan individu secara terus menerus guna meningkatkan diri menuju kehidupan yang lebih baik.

A.    Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

Agar lebih memahami apa arti  pendidikan karakter , maka kita dapat merujuk pada beberapa pendapat ahli berikut ini:

1)    T. Ramli

Menurut T. Ramli, pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang membentuk esensi dan makna terhadap moral dan akhlak sehingga hal tersebut akan mampu menjadi pribadi pribadi peserta didik yang baik.

2)    Thomas Lickona

Menurut Thomas Lickona, pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

3)    John W. Santrock

Menurut John W. Santrock,  pendidikan karakter  adalah pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan langsung kepada peserta didik untuk menanamkan nilai moral dan memberi pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral dalam upaya mencegah perilaku yang dilarang.

4)    Elkind

Menurut Elkind, pengertian pendidikan karakter adalah suatu metode pendidikan yang dilakukan oleh tenaga pendidik untuk mempengaruhi karakter murid. Dalam hal ini terlihat bahwa guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran tetapi juga mampu menjadi seorang teladan.

 

B.    Fungsi Pendidikan Karakter

Mengacu pada pengertian di atas, pendidikan karakter memiliki fungsi dasar untuk mengembangkan potensi seseorang agar dapat menjalani kehidupannya dengan bersikap baik. Dalam lingkup pendidikan formal, pendidikan karakter di sekolah berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia, bermoral, tangguh, berperilaku baik, dan toleran.

Tiga fungsi utama pendidikan karakter di sekolah. Serupa.id mengutip Zubaedi dalam buku Desain Pendidikan Karakter (2012) yang menyebutkan tiga fungsi pendidikan karakter di sekolah. Ketika fungsi tersebut adalah:

1.     Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi.

Agar perserta didik mampu mengembangkan potensi dalam dirinya untuk berpikir baik, berhati nurani baik, berperilaku baik, dan berbudi luhur.

2.     Fungsi untuk penguatan dan perbaikan.

Memperbaiki dan menguatkan peran individu, keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan berpartisipasi dalam mengembangkan potensi kelompok, instansi, atau masyarakat secara umum.

3.     Fungsi penyaring .

Pendidikan karakter digunakan agar masyarakat dapat memilih dan memilah budaya bangsa sendiri, dapat menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa sendiri yang berbudi luhur.

 

C.    Nilai Pendidikan Karakter

Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK (Pengembangan Pendidikan Karakter), yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.

1.     Nilai Karakter Religious

Nilai karakter religious mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap pelaksanaan ibadah dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, keyakinan pendirian, kepercayaan diri, keyakinan, antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti peru dan kekerasan, persahabatan, tidak menginginkan keinginan, lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

2.     Nilai Karakter Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, perhatian, dan perbuatan yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui apresiasi terhadap budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

3.     Nilai Karakter Integritas

Adapun nilai karakter integritasmerupakan nilai yang didasarkan pada perilaku yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui tindakan dan tindakan berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai individu (terutama orang-orang cacat), serta mampu menunjukkan keteladanan.

4.     Nilai Karakter Mandiri

Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak memperhatikan orang lain dan mengatasi segala tenaga, pikiran, waktu untuk mewujudkan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

5.     Nilai Karakter Gotong Royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan masalah bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan siswa dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, Membantu membantu, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

Minggu, 28 November 2021

SUHU DAN KALOR

SUHU

Suhu adalah tingkat derajat panas suatu benda. Jika suatu benda mendapat panas (kalor), maka suhu benda akan naik, jika benda didinginkan maka suhu benda akan turun (rendah).

Alat Ukur Suhu

1. Termometer Laboratorium
        Termometer laboratorium dengan skala 0 derajat C sampai ___ derajat C. Dalam termometer menggunakan petunjuk air raksa. Sebelum menggunakan termometer, sebaiknya air raksa dibuat untuk menunjukan atau terletak pada angka . Yaitu dengan dilepaskan termometer agar air raksa turun ke 0.

2. Termometer Klinik
        Termometer klinik digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia. Pada termometer klinik memiliki skala 35 derajat C sampai 42 derajat C. Sebelum digunakan maka air raksa diletakan pada angka 35 derajat C kemudian bila akan digunakan untuk mengukur suhu badan termometer diletakan pada bagian yang mudah memberi panas pada termometer.

3. Termometer Maksimum-minimum
        Termometer maksimum atau minimum digunakan untuk mengukur suhu tertinggi dan terendah dalam jangka waktu tertentu, misalnya suhu dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00. Termometer dipasang dengan alat petunjuk skala yang terletak di atas permukaan air raksa. Termometer jenis ini pertama kali dibuat oleh Six Bellani yang jemudian lebih dikenal dengan termometer maksimum-minimum Six Bellani.

Skala Suhu pada Termometer

1. Termometer Celcius
    Termometer ini dibuat oleh Anders Celcius dari Swedia pada tahun 1701-1744. Berikut ciri-ciri termometer celcius.
a. Titik tetap atas menggunakan air yang sedang mendidih (100 derajat C),
b. Titik tetap bawah menggunakan air yang membeku atau es yang sedang mencair (0 derajat C),
c. Perbandingan skalanya 100.

2. Termometer Reamur
    Termometer ini dibuat oleh Reamur dari Prancis pada tahun 1731. Adapun ciri-ciri termometer yaitu:
a. Titik tetap atas menggunakan air yang mendidih (80 derajat R),
b, Titik tetap bawah menggunakan es yang mencair (0 derajat R),
c. Perbandingan skalanya 80.

3. Termometer Farenheit
     Termometer ini dibuat oleh Daniel Gabriel Farenheit dari Jerman  pada tahun 1986-1736. Ciri-ciri termometer Farehneit, sebagai berikut:
a. Totok tetap atas menggunakan air mendidih (212 derajat Farenheit),
b. Titik tetap bawah menggunakan es mencair (0 derajat Farenheit),
c. Perbandingan skalanya 180.

4. Termometer Kelvin
    Termometer ini dibuat oleh Kelvin dari Inggris pada tahun1848-1954. Berikut ini ciri-ciri termometer kelvin
a. Titik tetap atas menggunakan air mendidih (373 K)
b. Titik tetap bawah menggunakan es mencair (273 K)
c. Perbandingan skalanya 100.

PEMUAIAN

Muai Panjang

Perubahan ukuran pada arah panjang tanpa memperhatikan arah pemuaian yang lain dengan menganggap ukuran panjangnya jauh lebih besar dari lebar dan tebalnya disebut pemuaian panjang. Pemuaian yang dialami suatu zat berbeda , ditentukan oleh koefisien muai panjang. Koefisien muai panjang adalah perbandingan antara panjang zat dari panjangnya semula untuk setiap kenaikan suhu sebesar satu satuan suhu.
Secara matematis dapat ditulis

https://www.gurupendidikan.co.id/wp-content/uploads/2019/10/Pemuaian-panjang-suatu-benda.jpg

Muai Luas

Benda-benda padat yang memiliki bidang seperti pelat besi atau lembaran kaca akan mengalami pemuaian ke arah panjang dan luasnya. Pemuaian dalam dua arah ini dapat dikatakan sebagai pemuaian luas. Pemuaian luas berbagai zat padat bergantung pada koefisien muai luas. Koefisien muai luas suatu zat adalah perbandingan antara pertambahan luas zat dengan luas semula untuk setiap kenaikan suhu sebesar satu satuan suhu.
Secara matematis dapat ditulis



https://nusacaraka.com/wp-content/uploads/2019/03/rumus-muai-luas-300x168.jpg 

Muai Volume

Benda padat yang memiliki bentuk kubus, bola, balok, dan bangun tiga dimensi lainnya, ketika dipanaskan akan mengalami pemuaian ke segala arah, yaitu pemuaian volume. Pemuaian volume ini bergantung pada koefisien muai volume suatu zat. Koefisien muai volume adalah perbandingan antara pertambahan volume semula untuk setiap kenaikan suhu sebesar satu satuan suhu.
Secara matematis dapat dituliskan

https://www.gurupendidikan.co.id/wp-content/uploads/2019/10/Pemuaianvolume.jpg

KALOR

Kalor adalah suatu bentuk energi yang dapat berpindah karena adanya perbedaan suhu pada suatu benda. Secara alamiah, kalor berpindah dari benda dari benda yang bersuhu tinggi kebenda yang bersuhu rendah sehingga terjadi pencampuran suhu dari kedua benda itu. Kalor merupakan salah satu bentuk energi. Oleh karena itu, satuan kalor sama dengan satuan energi, yaitu joule (J).

Hubungan Kalor Jenis dengan Kapasitas Kalor

Kalor yang sama diberikan pada dua benda yang berbeda akan menghasilkan perubahan suhu yang berbeda . Jika air dan minyak tanah dengan massa yang sama dipanaskan maka minyak tanah mengalami perubahan suhu lebih besar sekitar dua kali daripada perubahan suhu air. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kalor jenis yang dimiliki oleh suatu benda. Kalor jenis suatu benda adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan suhu 1 kg benda itu sebesar 1 derajat C.
Kemampuan suatu benda untuk menyerap kalor berbeda karena berlainan jenis, walaupun massa dan kenaikan suhunya sama. Faktor massa dan kalor jenis, walaupun massa dan kenaikan suhunya sama. Faktor massa dan kalor jenis sering dipandang sebagai satu kesatuan yang nilainya tetap sehingga disebut kapasitas kalor . Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan suatu benda untuk menaikkan suhu 1 derajat C dan ditulis dalam bentuk persamaan 


https://www.spengetahuan.com/wp-content/uploads/2017/10/rumus-kapasitas-kalor.png

Perubahan Wujud Zat


https://cilacapklik.com/wp-content/uploads/2020/07/Screenshot_2020-07-04-21-46-12-887_com.adsk_.sketchbook-picsay_compress23.jpg 


Asas Black

Energi kalor bersifat kekal dalam arti bahwa kalor tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan hanya berpindah tempat dan berubah bentuk . Ketika sejumlah kalor dilepaskan oleh sebuah benda yang suhunya lebih tinggi, maka kalor tersebut akan diterima oleh benda lain yang suhunya lebih rendah dengan jumlah yang sama besar. Secara singkat dapat dituliskan sebagai berikut.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBxUQBgGX7FW5BtsB1HJ5S5AAfpZ-ylGh0QAFkMLnZj0bAQcrF2X70Pp0aUAsLi-KfxgEmYKP_7KZhEfPQ_fBK3C1cSOzwybZEMmVQM94hDAWwtNiK9tNaPqUdLzb1821vUkm1mrXhpN6i/s320/rumus+asas+blak.png 

Gejala tersebut pertama kali ditunjukkan oleh seorang ilmwuan berkebangsaan Inggris bernama Joseph black (1728-1799). Oleh karena itu, persamman di atas lebih dikenal dengan nama Asas Black.
Asas Black merupakan kaidah yang berasal dari Hukum Kekekalan Energi uang menyatakan bahwa energi bersifat kekal atau tetap.

PERPINDAHAN KALOR

Konduksi

Konduksi merupakan perpindahan panas melalui zat padat yang tidak ikut mengalami perpindan. Apabila ujung sebatang logam dipanaskan di atas api, maka ujung yang lain akan menjadi panas. Hal ini menunjukan kalor berpindah kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Contoh dari konduksi yang lain adalah tutup panci yang menjadi panas ketika digunakan untuk memasak.

Konveksi

Konveksi merupakan perpindahan panas melalui aliran yang zat perantaranya ikut perbindah. Konveksi sering terjadi pada zat cair dan gas. Contohnya adalah air yang dipanaskan akan memuai sehingga massa jenismya menjadi berkurang. Karena massa jenis berkurang, air kemudian bergerak naik. Selain itu, konveksi juga terjadi pada gas ketika udara panas naik dan udara yang lebih dingin turu. Contoh konveksi udara ketika terjadi ketika angin darat dan angin laut di pantai, gerakan balon udara, dan asap cerobong plastik.

Radiasi

Radiasi merupakan perpindahan kalor tanpa zat perantara (pancaran). Radiasi yang dipancarkan atau diserap oleh benda bergantung terhadap warna benda. Benda yang berwarna terang menjadi pemancar atau penyerap kalor yang buruk, sedangkan warna hitam akan menjadi penyerap kalor yang baik.
Sebagai contohnya, jika mengenakan baju warna hitam pada siang hari tubuh akan merasa lebih cepat panas . Contoh lain dari radiasi adalah tubun aka terasa hangat jika dekat dengan api, pakaian akan menjadi kering bila dijemur di bawah sinar matahari.

REFERENSI

Hartanto, Hendri. (2010). RUMUS JITU FISIKA SMP. Yogyakarta: IndonesiaTera

Mundilarto, dan Edi Istigono. (2007). FISIKA 1 SMP Kelas VII. Bekasi: Yudhistira

Pauliza, Oza. (2008). FISIKA UNTUK SMK Kelompok Teknologi dan Kesehatan Kelas XI. Bandung: Grafindo Media Pratama

Tim Maestro Genta. (2020). BUPELAS BUKU PELENGKAP KURTILAS PEMETAAN MATERI & BANK SOAL IPA SMP KELAS 7 ILMU PENGETAHUAN ALAM. Surabaya: Genta Group Production

Sulaiman, Ismail. (2015). PERPINDAHAN KALOR DAN MASSA. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press

Suwarni, Sri dan Endah Susilowati. (2019). Penggunaan Alat Ukur Panjang Pelajar IPA. Semarang: Alprin

PENDIDIKAN LINGUISTIK

A.     Definisi Linguistik Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah...