A.
Definisi
Linguistik
Linguistik dikenal dengan ilmu bahasa yang
berisi sebuah konsep berupa nama. Pembahasan mengenai bahasa sudah dilakukan
sejak abad ke-5 SM oleh orang-orang Yunani (seperti Cratylus dan Plato),
sekarang yang kita kenal dengan “tata bahasa tradisional’ merupakan bidang
kajian dalam ‘filsafat’ pada zaman tersebut. Pandangan terhadap
bahasa memunculkan dua kelompok berbeda, kelompok naturalis dan kelompok
konvensionalis. Kelompok naturalis didasari oleh sudut pandang filosofi-logis,
mengkaitkan bahasa dengan filsafat; gramatika merupakan bagian dari logika.
Kelompok kovensionalis didasari oleh sudut pandang
deskriptif-etnografis, mengkaitkan bahasa dengan bidang antropologi; gramatika
merupakan bagian dari budaya. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada bentuk
oposisi antara bahasa sebagai kaidah dan bahasa sebagai sumber. Namun keduanya
memiliki perhatian yang besar pada aspek sistem; pengungkapan sifat mendasar
dari bahasa (I Gusti Made Sutjaja, 1999: 59). Perkembangan selanjutya bahasa
berdiri sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang sekarang kita kenal sebagai
linguistik.
Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha
mencari keteraturan kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya (
Abdul Chaer, 2007: 10). Pernyataan tersebut menekankan bahwa tugas linguistik
hanya mempelajari kaidah-kaidah yang seharusnya sesuai dengan tata bahasa.
Dalam kurun watu sekitar seperempat abad mengenai kajian linguistik di
Indonesia, bahwa minat para linguis Indonesia masih terpusat pada tataran
sitaksis dan dengan pedekatan struktural (Wahab, 1999: 11-14). Pengkajian
tersebut berkutat hanya dari struktur fisik bahasa dengan data bahasa yang
diteliti cenderung itu-itu saja, yaitu bahasa-bahasa di pulau Sumatera dan Jawa
dan kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur. Penelitian
linguistik hanya befokus pada satu hal yang melupakan unsur lain, pendekatan
struktur merupakan pengetahuan dasar dan sebaiknya ditambah dengan berbagai
sudut pandang baru dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat kita
menginterpretasikan bahasa dengan lebih untuh. Kita seharusnya mempertanyakan
mengenai bagaimanakah aspek di luar bahasa seperti segi fungsional bahasa dalam
pemakaian bahasa sehari-hari, dalam wacana, dan lain sebagainya.
Penulusuran yang dilakukan oleh Lauder
(1995:10-15) dengan mengikuti pembagian kelompok kegiatan yang dirancang oleh
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Berdasarkan jenis penelitian,
gambarannya adalah sebagai berikut: penelitian Struktur Bahasa 67,65%; Sosiolinguistik
3,67%; Dialektologi 9,12%; Sastra 16,46%; dan Pengajaran 3,10%. Data ini
memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian struktur bahasa menempati urutan
pertama petama (67,65%). Catatannya ialah bahwa penelitian yang berfokus pada
fonetik dan fonemik jumlahnya minim, sedangkan penelitian yang berfokus pada
variasi bahasa, yaitu penelitian sosiolinguistik dan dialektologi, ternyata
masih kecil jumlahnya (12,79%) jika dibandingkan dengan penelitian struktur
bahasa ( Multaia RMT Lauder, 2002: 175). Ketika kita mendalami sesuatu haruslah
secara meluas begitupula dalam mendalami ilmu bahasa harus meluas tidak hanya
pada bentuk fisiknya saja, kita harus mendalami pengaruh dari dalam dan luar.
Jangan menggunakan “kacamata kuda” yang hanya melihat lurus ke depan. Seperti
juga dalam pendidikan, bahwa ketika mengajar harus memperhatiakan hal-hal lain
bukan hanya fokus pada strategi saja tapi harus pada hal-hal lain untuk
mendukung pembelajaran.
B. Definisi Linguistik Terapan
Linguistik terapan (applied
linguistics) adalah satu cabang ilmu linguistik makro yang diterapkan
pada disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan linguisitk. Definisi dari
Linguistik terapan yang ditawarkan oleh para ahli adalah sebagai berikut.
1) Richards
dan Schmidt (2002: 320) di dalam kamus pengajaran bahasa & Linguistik
terapan mendefinisikan linguistik terapan sebagai berikut:
a. Linguistik terapan
adalah studi tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa kedua dan
bahasa asing,
b. Linguistik terapan adalah
studi tentang bahasa dan linguistik yang berkaitan dengan masalah-masalah
praktis, seperti perkamusan, terjemahan, patologi wicara, dll. Linguistik
terapan menggunakan informasi dari Sosiologi, Psikologi, Antropologi, dan teori
informasi serta ilmu linguistik untuk mengembangkan model-model teoritis bahasa
dan penggunaan bahasa, kemudian menggunakan informasi dan teori ini di bidang
praktis seperti desain silabus, terapi bicara, bahasa perencanaan, gaya bahasa,
dll.
2) Monoton Davies (2004: 3) menyatakan bahwa linguistik terapan adalah
penyelidikan teoritik dan empirik yang menempatkan bahasa sebagai pokok
pembahasan.
3) Schmit dan Celce-Muria di Davies (2004: 4) mendefinisikan Linguistik
terapan sebagai aplikasi atau penggunaan tentang apa yang kita ketahui tentang
bahasa, bagaimana ia dipelajari, bagaimana itu digunakan, dalam rangka untuk
mencapai beberapa tujuan atau memecahkan beberapa masalah di dunia nyata.
4) Grabe di Davies (2004: 5) mengatakan bahwa fokus dari Linguistik terapan
adalah usaha untuk menyelesaikan masalah berbasis bahasa yang dihadapi di dunia
nyata, baik mereka sebagai pelajar, guru, pengawas, akademisi, pengacara, dan
penyedia layanan, mereka yang terjun di bidang sosial, pengambil tes, pemegang
kebijakan, pembuat kamus, penerjemah, atau berbagai macam klien bisnis. Grabe
di Davies (2004: 11) menyimpulkan bahwa definisi Linguistik terapan adalah
kegiatan yang koheren secara teoritis serta dibuktikan melalui penyelidikan
spekulatif dan empiris terhadap masalah di dunia nyata.
C. Definisi Pendidikan Linguistik
Berikut adalah beberapa definisi
linguistik pendidikan yang ditawarkan oleh beberapa ahli. Mereka adalah sebagai
berikut:
1)
Hornberger dan Spolsky di Spolsky dan Hult (2008: 2)
mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai bidang studi yang mengintegrasikan
penelitian dalam bidang linguistik dan disiplin ilmu yang lain terkait ilmu
sosial untuk menyelidiki berbagai isu-isu yang berkaitan dengan bahasa dan
pendidikan secara holistik.
2)
Richards dan Schmidt (2002: 330) di dalam kamus pengajaran
bahasa dan linguistik terapan mendefinisikan linguistik pendidikan sebagai
istilah yang kadang-kadang digunakan untuk merujuk kepada cabang Linguistik
terapan yang berkaitan dengan hubungan antara bahasa dan pendidikan.
3)
Unsworth (2015: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan
berkaitan dengan studi bahasa dalam mengajar dan belajar. Dengan demikian, ia
memiliki kepentingan di dalam sistem linguistik dan perannya dalam belajar,
juga seperti apa jenis pengetahuan tentang bahasa yan harus diajarkan kepada
anak-anak.
D.
Lingkup Linguistik Pendidikan
Berikut ini adalah beberapa penjelasan
tentang ruang lingkup pendidikan linguistik yang diusulkan oleh bysome:
1.
Spolsky (1974: 3) menyatakan bahwa linguistik pendidikan
adalah disiplin ilmu yang tugas utamanya adalah untuk menawarkan informasi yang
relevan untuk merumuskan kebijakan pendidikan bahasa dan pelaksanaannya,
2.
Hornberger di Benson (2005: 8) menyatakan bahwa linguistik
pendidikan mengkhususkan dirinya sendiri terhadap isu-isu di keanekaragaman
linguistik dan budaya dengan pendekatan untuk belajar dan mengajar yang
merangkul kepentingan lokal, nasional dan internasional. Kemudian, ia juga
mengatakan bahwa linguistik pendidikan termasuk pemerolehan bahasa kedua,
pemilihan bahasa, pemeliharaan dan pergeseran bahasa, bahasa dan etnis,
analisis deskriptif, pidato dan wacana, pendidikan, implikasi keanekaragaman
linguistik, pendidikan perencanaan bahasa, dwibahasa, interaksi pengucapan dan
buta huruf.